BOJONEGORO l Beritakilat.id – Perekonomian Kabupaten Bojonegoro pada Triwulan I Tahun 2026 mencatat pertumbuhan sebesar 0,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year). Meski tumbuh sangat tipis, sejumlah sektor nonmigas menunjukkan kinerja positif dan menjadi penopang utama perekonomian daerah. Rabu (10/6/2026).
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Bojonegoro dalam beberapa tahun terakhir masih menunjukkan pola yang fluktuatif. Bahkan pada Triwulan I Tahun 2024, pertumbuhan ekonomi sempat terkontraksi hingga minus 3,72 persen akibat penurunan lifting minyak dan gas bumi (migas) yang cukup signifikan.
Pada Triwulan I Tahun 2026, sektor pertanian menjadi salah satu motor penggerak ekonomi dengan pertumbuhan mencapai 11,38 persen. Selain itu, sektor perdagangan tumbuh 6,46 persen dan industri pengolahan meningkat 5,22 persen. Sektor jasa lainnya serta akomodasi dan penyediaan makan minum juga mencatat pertumbuhan di atas 10 persen.
Namun, capaian positif sejumlah sektor tersebut belum mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi secara lebih tinggi. Hal ini disebabkan sektor pertambangan dan migas yang masih menjadi tulang punggung ekonomi Bojonegoro mengalami kontraksi sebesar 8,78 persen.
“Untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu daerah, kita juga perlu melihat struktur ekonominya. Sektor pertambangan terhadap ekonomi di Bojonegoro masih cukup tinggi, sekitar 42,03 persen. Namun setiap periode berjalan terjadi penurunan kontribusi terhadap PDRB Bojonegoro,” ujar Syawaluddin.
Meski demikian, struktur ekonomi Bojonegoro mulai menunjukkan perubahan. Kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terus meningkat. Jika sebelumnya berada di kisaran 14 persen, kini naik menjadi 17,1 persen. Sementara sektor perdagangan, industri pengolahan, dan konstruksi juga terus memperlihatkan tren pertumbuhan yang positif.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi pada Triwulan I Tahun 2026 turut didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah. Konsumsi rumah tangga tumbuh 6 persen, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi meningkat 5 persen, sedangkan konsumsi pemerintah melonjak 20,45 persen yang antara lain ditopang oleh program MBG dan KDKMP.
Secara struktur, konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar dalam perekonomian Bojonegoro dengan kontribusi mencapai 46,22 persen. Sementara net ekspor berada di posisi kedua dengan kontribusi sebesar 29,5 persen.
Pada tingkat regional, kontribusi perekonomian Bojonegoro terhadap perekonomian Jawa Timur mencapai 3,2 persen. Capaian tersebut menempatkan Bojonegoro sebagai daerah dengan kontribusi ekonomi terbesar kesembilan di Jawa Timur.
Syawaluddin menambahkan, pertumbuhan positif pada sektor perdagangan dan transportasi menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat terus bergerak. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Bojonegoro yang tertahan pada angka 0,02 persen bukan disebabkan melemahnya seluruh sektor ekonomi, melainkan karena besarnya pengaruh sektor pertambangan yang sedang mengalami penurunan.
“Ketika sektor perdagangan dan transportasi tumbuh positif, berarti aktivitas ekonomi daerah tetap bergerak. Pertumbuhan ekonomi Bojonegoro tertahan oleh turunnya sektor pertambangan, sementara sektor-sektor lainnya justru menunjukkan pertumbuhan yang baik,” pungkasnya.
