BOJONEGORO | Beritakilat.id – Kegiatan Ngangsu Kawruh Samin yang menjadi bagian dari rangkaian 1 Dekade Samin Festival #10 Tahun 2026 berlangsung hangat, penuh kebersamaan, dan sarat nilai budaya di halaman Balai Budaya Samin, Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (20/6/2026).
Acara ini dihadiri para akademisi dari berbagai perguruan tinggi, mahasiswa, pegiat budaya, guru, serta masyarakat umum. Ngangsu Kawruh Samin menjadi ruang bersama untuk menggali, memahami, dan melestarikan nilai-nilai luhur budaya Samin yang diwariskan secara turun-temurun.

Kegiatan diawali dengan penampilan kesenian Oklik, kesenian khas Bojonegoro yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada tahun 2025. Penampilan tersebut menambah semarak suasana sekaligus menegaskan komitmen masyarakat dalam menjaga keberlangsungan budaya daerah.
Mengusung tema “Sabare Dieling-eling, Trokale Dikuati”, festival tahun ini mengajak masyarakat untuk senantiasa mengingat nilai kesabaran serta memperkuat semangat dan keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Sadari, menegaskan bahwa kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari sejarah. Menurutnya, setiap perjalanan budaya selalu memiliki strategi dan nilai yang melatarbelakanginya.
“Kalau bicara kebudayaan pasti ada sejarah. Ngangsu Kawruh siang hari ini mengingatkan bahwa apa pun yang ada pasti memiliki strategi yang melatarbelakanginya. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur menyambut baik kegiatan ini,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, Lukiswati, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan yang berlangsung dalam suasana gayeng, adem, dan penuh kebersamaan tersebut.
Menurutnya, nilai-nilai luhur dan ajaran Samin yang bersifat universal masih tetap hidup hingga saat ini karena diwujudkan dalam perilaku sehari-hari masyarakat. Hal tersebut menjadi kekuatan penting dalam menjaga identitas budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
Lukiswati juga menyampaikan rasa syukur atas ditetapkannya Bojonegoro sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark. Tahun ini, Indonesia diwakili oleh Bojonegoro dan Sumatera Barat dalam proses penilaian tersebut, di mana aspek budaya menjadi salah satu unsur penting yang mendapat perhatian.
“Insyaallah akan ada tim penilai dari Jerman dan China yang berkunjung untuk melihat budaya Samin. Mudah-mudahan ini dapat mengangkat citra baik Bojonegoro sekaligus memperkenalkan budaya Samin kepada masyarakat dunia,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa budaya Samin telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2019. Pada tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro kembali mengusulkan salah satu tradisi Samin, yakni Gumbregan, untuk memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional.
“Ini merupakan upaya untuk merawat identitas budaya, menjaga kearifan lokal, serta menghormati para leluhur yang telah mewariskan ajaran-ajaran luar biasa,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Bambang Sutrisno, generasi kelima Samin Surosentiko, menegaskan bahwa nilai-nilai ajaran Samin pada dasarnya tidak mengalami perubahan. Namun, perkembangan zaman telah membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, terutama pada pembangunan fisik dan infrastruktur.
Ia mencontohkan perubahan yang terjadi di wilayah Margomulyo, mulai dari jalan yang dahulu masih sederhana hingga kini berkembang menjadi jalan beton dan jalan paving yang semakin memudahkan aktivitas masyarakat.
Bambang juga mengisahkan pesan Samin Surosentiko sebelum wafat, bahwa kemerdekaan sejati akan terwujud ketika pemimpin dan rakyat hidup dalam tatanan yang selaras dengan aturan dan nilai kebaikan. Ajaran Samin, lanjutnya, mengajarkan pentingnya bekerja keras, menanam kebaikan, serta menghormati hak milik orang lain.
“Ajaran Samin mengajarkan agar tidak melakukan perbuatan buruk. Perlawanan terhadap penjajahan dahulu dilakukan tanpa kekerasan, melalui sikap dan perilaku yang mencerminkan keteguhan prinsip,” jelasnya.
Menurut Bambang, strategi perjuangan tanpa kekerasan tersebut kemudian melahirkan sebutan Sedulur Sikep, yang menggambarkan masyarakat Samin sebagai komunitas yang tidak membeda-bedakan sesama serta senantiasa mempertahankan nilai-nilai kebenaran melalui cara-cara damai.
Melalui Ngangsu Kawruh Samin dalam rangka 1 Dekade Samin Festival #10, nilai-nilai luhur, sejarah perjuangan, serta kekayaan budaya lokal kembali diperkenalkan kepada masyarakat luas. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya sekaligus memperkuat identitas Bojonegoro sebagai daerah yang kaya akan tradisi, kearifan lokal, dan semangat pelestarian budaya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Dr. Sugeng Wardoyo, tokoh yang dikenal sebagai penemu motif Obor Sewu, Prof. Catur Suratno dari UPN Veteran Jawa Timur, serta Dr. Wuryanto dari Universitas PGRI Madiun.
