Ragam  

Tradisi Sakral Nguras Enceh Sultan Agung Dipadati Ribuan Peziarah, Air Gentong Pusaka Dipercaya Membawa Berkah

BANTUL l Beritakilat.id – Ribuan peziarah dari berbagai daerah di Indonesia memadati kompleks Makam Raja-raja Mataram di Pajimatan, Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, saat mengikuti tradisi sakral Nguras Enceh yang digelar bertepatan dengan hari selasa kliwon (dalam pasaran jawa), atau tepat pada selasa (7/7/2026).

Tradisi tahunan yang telah berlangsung turun-temurun ini menjadi salah satu ritual budaya yang paling dinantikan masyarakat. Selain sarat nilai sejarah dan spiritual, prosesi tersebut juga menarik perhatian peziarah yang percaya air dari gentong pusaka membawa keberkahan.

Prosesi diawali oleh para abdi dalem Keraton Surakarta yang dipimpin Bupati Juru Kunci Surakarta. Dengan diawali pembacaan tahlil dan doa bersama, mereka menguras dua enceh pusaka, yakni Kyai Mendung dan Nyai Siyem.

Selanjutnya, prosesi diteruskan oleh abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dipimpin Bupati Juru Kunci Purulaya dengan menguras dua enceh lainnya, yaitu Kyai Danumaya dan Nyai Danumurti.

Begitu ritual selesai, ribuan pengunjung langsung berebut air kurasan dari keempat gentong pusaka tersebut. Sebagian membasuh wajah dengan air yang meluap dari enceh, sementara lainnya membawa botol untuk menyimpan air dan dibawa pulang.

Masyarakat meyakini air kurasan enceh merupakan simbol keberkahan, perantara doa untuk keselamatan, penolak bala, serta dipercaya dapat membantu menyembuhkan berbagai penyakit.

Antusiasme pengunjung datang tidak hanya dari Daerah Istimewa Yogyakarta, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan, Jambi, Bengkulu, hingga wilayah lainnya.

Salah seorang peziarah asal Bojonegoro, Marjai, mengaku sering kali mengikuti tradisi Nguras Enceh di Makam Sultan Agung.

“Saya sudah sering kali datang ke Makam Sultan Agung. Alhamdulillah saya merasakan banyak kebaikan dan semoga keberkahan selalu menyertai kehidupan saya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua rombongan yang juga Sekretaris cabang Margaluyu 151 Bojonegoro Heri Susilo, menjelaskan bahwa Nguras Enceh merupakan tradisi rutin yang dilaksanakan setiap Bulan Sura dan biasanya bertepatan dengan Jumat Kliwon, Atau selasa kliwon.

“Tradisi ini adalah warisan budaya yang terus dilestarikan. Tahun ini pelaksanaannya bertepatan dengan malam 22 Sura atau selasa kliwon. Karena pas tahun ini 1448 H di bulan sura tidak ada hari jum’at kliwon, sehingga kegiatan diadakan pada hari Selasa kliwon,” jelasnya.

Menurut Heri Susilo, masyarakat yang berebut air kurasan gentong merupakan bagian dari tradisi yang telah berlangsung sejak lama.

“Air kurasan dari gentong-gentong pusaka ini dipercaya masyarakat sebagai simbol keberkahan, keselamatan, dan menjadi perantara doa. Tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi juga bentuk pelestarian budaya dan penghormatan kepada Sultan Agung serta para leluhur Mataram,” pungkas Heri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *