BOJONEGORO Beritakilat.id – Tantangan besar menanti Federasi Savate Indonesia (FSI) Kabupaten Bojonegoro. Di bawah kepemimpinan H. Darsono, S.Pd., organisasi olahraga bela diri asal Prancis tersebut dituntut tidak sekadar berkembang secara kelembagaan, tetapi juga mampu melahirkan atlet berprestasi yang mengharumkan nama daerah.
Kepengurusan FSI Bojonegoro periode 2026–2031 resmi dilantik pada Sabtu (17/10/2026). Kegiatan yang dirangkai dengan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) itu menjadi momentum untuk memperkuat organisasi sekaligus mematangkan strategi pembinaan atlet menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027.

Sejumlah tokoh olahraga dan pemerintah daerah hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua KONI Bojonegoro Drs. Sahari, MM, Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dinpora) Bojonegoro Arief Nanang Sugianto, S.STP., MM, serta Ketua FSI Jawa Timur Haris Fadillah.
H. Darsono S.pd Dituntut Buktikan Kepemimpinan Lewat Prestasi
Usai pelantikan, H. Darsono menegaskan bahwa kepengurusan baru harus menjadikan momentum tersebut sebagai titik awal untuk bekerja secara terarah dan berkelanjutan. Baginya, kemajuan Savate tidak cukup dibangun melalui kegiatan seremonial, tetapi membutuhkan program nyata yang menyentuh pembinaan atlet.
“Ini momentum untuk meneguhkan komitmen dan menyatukan visi. Program kerja harus terarah untuk kemajuan Savate, dari kabupaten hingga provinsi,” tegas H. Darsono.
Fokus pembinaan diarahkan pada penjaringan atlet muda potensial, peningkatan kualitas latihan, serta penguatan organisasi agar Savate semakin dikenal dan diminati masyarakat.
Kepemimpinan Darsono selama lima tahun ke depan pun menjadi kesempatan untuk membangun fondasi prestasi yang lebih kuat, terutama dalam menghadapi persaingan olahraga tingkat provinsi.
KONI Tantang Savate Menjangkau 28 Kecamatan
Ketua KONI Bojonegoro, Drs. Sahari, menegaskan bahwa pelantikan pengurus bukanlah akhir dari perjuangan organisasi. Sebaliknya, momen tersebut harus menjadi awal kerja keras untuk memperluas pembinaan hingga ke tingkat kecamatan.
“Pelantikan jangan jadi garis finis. Ini harus jadi start awal. Dari 28 kecamatan di Bojonegoro, kalau bisa terbentuk kepengurusannya agar rekrutmen atlet jelas,” tegas Sahari.
Dorongan tersebut menjadi tantangan bagi FSI Bojonegoro untuk memperluas basis pembinaan dan membuka peluang bagi generasi muda di berbagai wilayah agar dapat mengenal serta menekuni olahraga Savate.
Dengan jangkauan organisasi yang semakin luas, proses pencarian atlet berbakat diharapkan berjalan lebih terstruktur. Potensi yang selama ini belum tergarap pun berpeluang muncul melalui pembinaan yang konsisten.
Dinpora Dorong Pembinaan yang Terukur
Kepala Dinpora Bojonegoro, Arief Nanang Sugianto, mendorong pengurus FSI membangun ekosistem olahraga yang mendukung peningkatan prestasi. Hal itu mencakup pengembangan kualitas pelatih, peningkatan kompetensi wasit, penyelenggaraan kompetisi, serta sinergi dengan sekolah dan komunitas.
Pembinaan yang terencana menjadi salah satu faktor penting agar atlet tidak hanya memiliki kemampuan teknik, tetapi juga kesiapan mental dan pengalaman bertanding.
Sinergi antara organisasi olahraga, pemerintah daerah, KONI, dan lingkungan pendidikan diharapkan mampu menciptakan jalur pembinaan yang berkesinambungan, mulai dari penjaringan atlet hingga persiapan menghadapi kejuaraan.
FSI Jatim Pasang Target Tinggi untuk Bojonegoro
Sementara itu, Ketua FSI Jawa Timur, Haris Fadillah, mendorong Bojonegoro tampil sebagai salah satu daerah percontohan pengembangan Savate di Jawa Timur.
Ia juga menaruh harapan besar terhadap kesiapan Bojonegoro menghadapi Porprov Jatim 2027, termasuk ambisi meraih prestasi tertinggi.
“2027 Savate masuk Porprov. Bojonegoro harus jadi tolok ukur dan percontohan Savate di Jatim. Minimal juara umum, syukur-syukur siap jadi tuan rumah Porprov 2027,” ungkap Haris.
Pernyataan tersebut menjadi pemacu bagi pengurus baru untuk segera menerjemahkan target menjadi program kerja yang realistis, terukur, dan berorientasi pada hasil.
### Bukan Sekadar Dilantik, tetapi Harus Menghasilkan Prestasi
Kepengurusan FSI Bojonegoro periode 2026–2031 kini menghadapi pekerjaan besar. Perluasan organisasi, penjaringan atlet muda, peningkatan kualitas pelatih, dan intensitas kompetisi menjadi bagian penting dari upaya membangun kekuatan Savate di daerah.
Porprov Jatim 2027 menjadi salah satu momentum penting untuk mengukur kesiapan pembinaan tersebut. Namun, prestasi tidak dapat diraih secara instan. Dibutuhkan kerja kolektif, kedisiplinan, program latihan yang konsisten, serta dukungan berbagai pihak.
Bagi H. Darsono dan seluruh jajaran pengurus, tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah pelantikan. Targetnya bukan sekadar membuat Savate semakin dikenal, melainkan membangun organisasi yang solid dan menghasilkan atlet yang mampu bersaing serta membawa nama Bojonegoro ke podium juara.












