LAMONGAN l Beritakilat.id — SMP Negeri 1 Modo, Kabupaten Lamongan, terus memperkuat pendidikan karakter siswa melalui pendekatan keagamaan. Salah satu program yang menjadi perhatian sekolah adalah pembiasaan membaca dan menghafal Al-Qur’an.
Kepala SMP Negeri 1 Modo, Zainul Arifin, S.Pd., M.M., mengatakan pembentukan karakter anak tidak cukup hanya dilakukan melalui aturan dan pemberian sanksi. Menurutnya, pembinaan harus dimulai dari hati dan dibangun melalui kebiasaan positif. Selasa (6/10/2026).

“Kalau ingin memperbaiki karakter anak, menurut saya solusinya kita dekatkan dengan kegiatan-kegiatan religi, terutama Al-Qur’an. Dengan begitu, insyaallah anak-anak bisa memiliki sikap dan attitude yang lebih baik,” ujar Zainul.
Ia menjelaskan, hampir satu tahun program tersebut dijalankan di sekolah dan dinilai memberikan dampak terhadap perilaku siswa. Kegiatan keagamaan dibuat secara rutin agar siswa memiliki aktivitas positif sekaligus mendapatkan pembinaan karakter.

Salah satu program dilaksanakan setiap Jumat pagi. Siswa diwajibkan sudah berada di sekolah sekitar pukul 06.45 WIB.
Bagi siswa yang sudah lancar membaca Al-Qur’an, kegiatan dilanjutkan dengan murojaah Juz 30 secara bersama-sama di lapangan. Sementara siswa yang belum lancar membaca Al-Qur’an mendapatkan pendampingan khusus di masjid maupun tempat yang telah disiapkan sekolah.
“Guru-guru kita sendiri yang mengajar. Setiap guru mendampingi sekitar lima sampai enam anak. Jadi progresnya harus jelas,” jelasnya.
Sekolah juga menetapkan target pembinaan secara bertahap. Dalam satu semester, siswa yang sebelumnya belum bisa membaca Al-Qur’an ditargetkan sudah mampu membaca sehingga dapat mengikuti program tahfidz bersama siswa lainnya.
Sedangkan untuk siswa kelas IX, sekolah menargetkan mereka mampu menghafal Juz 30 sebelum lulus.
“Targetnya kelas 9 itu lulus sudah hafal Juz 30. Ini menjadi salah satu standar yang kita bangun dalam pembinaan siswa,” katanya.
Selain membaca dan menghafal Al-Qur’an, sekolah juga membiasakan siswa mengenakan songkok, khususnya dalam kegiatan keagamaan. Menurut Zainul, pembiasaan tersebut awalnya tidak mudah karena membutuhkan proses dan ketelatenan.
Namun, seiring berjalannya program, kesadaran siswa mulai tumbuh. Bahkan, menurutnya, saat ini sebagian besar siswa sudah terbiasa mengenakan songkok dalam kegiatan yang ditentukan sekolah.
Tidak hanya siswa, para guru juga dilibatkan dalam pembiasaan tersebut sehingga menjadi contoh bagi peserta didik.
Zainul menegaskan, pendekatan pendidikan karakter yang dilakukan sekolah bukan semata-mata memperbanyak aturan dan hukuman.
“Bukan peraturan seketat apa pun, kalau hatinya masih belum tersentuh, itu sulit. Hati anak harus kita tata dulu. Kalau pondasinya sudah bagus, insyaallah perilakunya akan mengikuti,” tuturnya.
Menurutnya, perubahan juga terlihat dalam kebiasaan ibadah siswa. Jika sebelumnya guru masih harus mengingatkan dan mengarahkan siswa secara ketat untuk melaksanakan salat, kini kesadaran tersebut mulai tumbuh dari diri siswa.
Sekolah bahkan membuat program salat Jumat bersama setelah melihat masih banyak siswa yang belum memiliki kebiasaan melaksanakan salat Jumat secara mandiri.
“Dulu kalau salat harus diingatkan terus. Sekarang sudah tidak perlu seperti itu. Karena hatinya sudah mulai tersentuh,” ungkapnya.
Melalui pendekatan tersebut, SMP Negeri 1 Modo berharap pendidikan karakter tidak hanya menghasilkan siswa yang patuh terhadap aturan sekolah, tetapi juga memiliki kesadaran dan kebiasaan baik yang tumbuh dari dalam dirinya.
Zainul menilai, pendidikan karakter pada akhirnya bukan hanya persoalan membuat aturan, melainkan bagaimana sekolah mampu menanamkan nilai, membangun kebiasaan, dan menyentuh hati siswa sehingga perubahan perilaku muncul secara sadar.












