Ragam  

7 Sumur Jobong Ditemukan di Nganjuk, Jejak Teknologi Tata Air Majapahit Terungkap

IMG 20261004 WA0394

NGANJUK | Beritakilat.id — Jejak kehidupan masyarakat masa lalu kembali terungkap di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Sebanyak tujuh sumur jobong ditemukan di kawasan tepi Sungai Brantas, Desa Tayang, Kecamatan Ngronggot.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena sumur jobong diperkirakan merupakan bagian dari teknologi tata air yang telah digunakan masyarakat pada masa Kerajaan Majapahit.

Penemuan bermula ketika warga melakukan penggalian tanah urugan pada Senin (28/9/2026). Saat proses penggalian, warga menemukan struktur berbentuk lingkaran yang tersusun dari material tanah liat.

Temuan itu kemudian ditindaklanjuti dengan peninjauan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nganjuk bersama pemerintah desa serta Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (Kota Sejuk).

Ketua Kota Sejuk, Amin Fuadi, menjelaskan bahwa jobong merupakan struktur tanah liat berbentuk lingkaran yang dicetak, dibakar, kemudian disusun bertingkat di dalam tanah.

Struktur tersebut memiliki fungsi sebagai dinding atau penguat sumur sehingga tanah di sekitarnya tidak mudah longsor. Teknologi ini menunjukkan bahwa masyarakat pada masa lalu telah memiliki pengetahuan mengenai konstruksi serta pengelolaan sumber air.

“Teknologi jobong ini ada pada era Majapahit. Dari bukti-bukti sejarah yang kami temukan, teknologi tersebut menjadi salah satu inovasi pada masa itu,” kata Amin.

Tujuh Sumur Berada dalam Satu Kawasan

Hal menarik lainnya adalah ditemukannya tujuh sumur jobong dalam satu kawasan. Jarak antara satu sumur dengan sumur lainnya diperkirakan sekitar tiga meter.

Lokasi penemuan juga relatif dekat dengan Sungai Brantas, yakni sekitar 15 meter dari bibir sungai. Kondisi tersebut memperkuat dugaan bahwa kawasan itu dahulu memiliki aktivitas permukiman dan pemanfaatan sumber air.

Berdasarkan pengamatan awal, setiap bagian jobong memiliki diameter sekitar 55 sentimeter dengan tinggi antara 27 hingga 32 sentimeter. Ketebalannya sekitar tiga sentimeter.

Susunan jobong yang ditemukan bervariasi, antara tiga hingga enam tingkat. Jumlah susunan tersebut diduga menyesuaikan kondisi muka air tanah di lokasi.

Menurut Amin, penggunaan jobong pada masa Majapahit umumnya disusun dalam jumlah tertentu dan dapat mencapai beberapa tingkat. Temuan serupa juga pernah ditemukan di sejumlah kawasan yang diduga berkaitan dengan permukiman kuno.

Jadi Petunjuk Permukiman Kuno

Keberadaan tujuh sumur jobong di Desa Tayang dinilai tidak sekadar menjadi temuan benda bersejarah. Struktur tersebut juga berpotensi menjadi petunjuk untuk mengungkap keberadaan dan pola kehidupan masyarakat masa lalu di kawasan sekitar Sungai Brantas.

Kawasan tersebut diperkirakan berada dalam jalur permukiman kuno era Majapahit yang berkaitan dengan wilayah Banjarsari dan Kelutan.

Karena memiliki nilai sejarah, pemerintah desa berencana menyerahkan temuan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Nganjuk untuk dilakukan penelitian dan penyelidikan lebih lanjut.

Penelitian lebih mendalam diharapkan dapat mengungkap usia pasti peninggalan, fungsi masing-masing sumur, pola permukiman, hingga kemungkinan adanya struktur peninggalan lain yang masih berada di sekitar lokasi.

Temuan tujuh sumur jobong ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi pengelolaan air di Nusantara ternyata telah memiliki sejarah panjang. Jauh sebelum teknologi modern berkembang, masyarakat masa lalu telah memanfaatkan pengetahuan lokal untuk memenuhi kebutuhan air sekaligus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan.

Kini, tujuh sumur jobong di tepi Brantas itu menjadi jejak berharga yang membuka peluang untuk mengungkap lebih jauh kehidupan masyarakat Nganjuk pada masa Majapahit.