Batik Obor Sewu Samin Kian Diminati, Berdampak pada Ekonomi Warga

beritakilat151
GPCnicvty43bnxAK

Bojonegoro | beritakilat.id – Batik Obor Sewu sebagai identitas budaya masyarakat Samin Margomulyo kian diminati. Meningkatnya perhatian ini berdampak langsung pada ekonomi warga yang terlibat dalam produksi, baik pembatik maupun penjahit.

Ketua Komunitas Samin, Bambang, menjelaskan sebelum kebijakan Pakaian Dinas Harian (PDH) ASN bermotif Obor Sewu diterapkan, batik tersebut tidak dipasarkan luas.

“Dulu konsepnya Obor Sewu tidak dijual di pasar luar. Orang yang ingin Obor Sewu harus datang langsung ke komunitas Samin di Dusun Jepang, Margomulyo. Jadi menjadi kebanggaan tersendiri bagi yang memakainya karena menjadi bukti pernah datang ke komunitas Samin,” ujar Bambang.

Setelah kebijakan PDH diterapkan, permintaan meningkat dan omzet penjualan ikut bertambah.

Pengenalan Obor Sewu juga mulai meluas ke dunia pendidikan. Salah satu perguruan tinggi di Bojonegoro mengenalkannya saat ospek, mahasiswa perempuan menggunakan selendang Obor Sewu, sementara mahasiswa laki-laki memakai udheng Obor Sewu.

Untuk harga, kain Obor Sewu dibanderol sekitar Rp160 ribu, udheng Rp70 ribu, dan selendang Rp40 ribu.

Motif Obor Sewu sendiri telah tercatat sebagai Kekayaan Intelektual dengan nomor pencatatan 000160986. Karena itu, proses pembatikan tetap dilakukan oleh masyarakat Samin Margomulyo untuk menjaga keaslian, karakter, dan nilai filosofisnya.

“Samin, termasuk ajaran dan adat yang sampai sekarang masih kami pertahankan,” kata Bambang.

Saat permintaan tinggi setelah kebijakan PDH, lebih dari 50 orang terlibat dalam produksi. Saat ini sekitar 30 hingga 40 orang masih aktif sebagai pembatik dan penjahit. Pembatik tetap berasal dari masyarakat Samin, sementara penjahit melibatkan warga dari berbagai wilayah, termasuk Kecamatan Ngraho.

Menurut Bambang, meningkatnya permintaan juga membuat sebagian warga Samin yang sebelumnya belum bisa membatik mulai tertarik belajar. Pada masa puncak permintaan, paguyuban batik di Bojonegoro juga sempat membantu produksi melalui kesepakatan bersama.

Saat ini permintaan masih stabil sekitar satu hingga dua pesanan per hari. Kondisi ini tetap memberi tambahan penghasilan sekaligus menjaga keberlanjutan keterampilan membatik di lingkungan Samin.

Bagi masyarakat Samin, meningkatnya penggunaan Obor Sewu bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat luas untuk mengenal sejarah, ajaran, dan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Penulis: HeryEditor: Sella