Paseksen di Kampung Samin Jepang Margomulyo

BOJONEGORO | Beritakilat.id – Dalam Ajaran Budaya Samin yang berada di Dusun Jepang Desa Margomulyo kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro, memang banyak Hal yang harus di lakukan agar Ajaran Budaya Tersebut tidak Hilang dengan adanya perkembangan Jaman, Kamis 5/05/2026 Malam.

Dalam Pernikahan, Ajaran Budaya Samin Memiliki Hal atau Tata Cara Adat Tersendiri yang memang harus dilaksanakan Oleh Warga Masyarakat Samin sebelum proses pernikahan tersebut disahkan oleh Agama Dan Negara.

Jika beberapa bulan yang lalu Calon Pengantin melakukan prosesi Jawab untuk mendapatkan kata sepakat dari kedua belah pihak, Kali ini Calon Pengantin akan melaksanakan prosesi “Paseksen” dimana Prosesi “Paseksen” tersebut Calon Pengantin Laki – Laki dan Perempuan telah Menyepakati untuk saling bisa menerima kekurangan dan kelebihan dari Pengantin Laki – Laki maupun Pengantin Perempuan.

Bambang Sutrino Generasi Ke V penganut ajaran Samin Surosentiko Menjelaskan, “Paseksen atau Akad Nikah yang di lakukan oleh wali perempuan (Bapak Kandung Tidak Boleh Wakil) dengan mengucapkan Prantasan Wali (Prosesi Nikah) kemudian di terima oleh Manten Laki – Laki dengan Kalimat Syahadat manten yang kemudian di tutup dengan pitutur sesepuh sebagai bekal untuk berumah tangga. Dan setelah Prosesi Adat baru nanti akan dilaksanakan Prosesi Pernikahan yang Sah menurut ajaran Agama dan Negara,” Jelasnya.

Bambang juga menjelaskan bahwa sebelum dilakukan pencatatan nikah dari kantor urusan agama, leluhur berpesan bahwa sedulur sikep samin yang mau menikah (paseksen) harus melakukan nikah adat dulu yaitu paseksen.

Paseksen biasanya dilakukan menjelang magrib (surup orang jawa bilang). Karena waktu itu dianggap para sedulur sikep sudah pulang semua dari sawah. Karena mayoritas sedulur sikep samin petani. Dan bisa kumpul di rumah calon penganten untuk menyaksikan.

Bambang juga menjelaskan kalau ada diluaran bahwa warga samin harus menikah dengan warga samin, itu tidak benar katanya.

“Kalau ada isu diluaran bahwa sedulur sikep samin harus menikah dengan sesama sedulur sikep samin itu adalah salah atau tidak benar,’ jelasnya.

“Nyatanya semalam Danang cucu dari mbah Harjo kardi atau keponakan saya ia menikah dengan Shinta warga dari luaran atau bukan sedulur sikep samin, tapi keluarga besan bisa mengikuti adat samin dan bisa menerimanya,” tegas Bambang pria yang dikenal ramah dan familier itu.

Ini adalah buktinyata bahwa adat atau ajaran Samin bisa dipahami dan dipelajari oleh masyarakat luas. Dan ini sebagai bukti untuk melestarikan budaya dikampung Samin.

Bambang juga menjelaskan bahwa pernikahan atau paseksen tidak bisa dipaksakan. Karena pernikahan hanya sekali untuk selamanya.

Penulis: Heri Susilo Editor: satria adzin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *