TANGGAMUS l Beritakilat.id – Sejumlah orang tua wali murid Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah Dadirejo, Kecamatan Wonosobo kabupaten Tanggamus mengeluhkan pembagian program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin, 27 Oktober 2025 yang dinilai tidak memenuhi rasa keadilan. Pasalnya, dalam pelaksanaan MBG di sekolah tersebut, hanya siswa kelas 1 hingga kelas 3 yang mendapatkan jatah makan, sementara siswa kelas 4 dan kelas 6 hanya bisa menonton tanpa mendapatkan bagian.
Salah seorang wali murid mengaku kecewa atas kebijakan tersebut. “Anak-anak kelas atas cuma bisa lihat adik kelasnya makan, padahal mereka juga berhak. Rasanya tidak adil,” ujarnya wali murid dengan nada kesal.
Mengetahui hal itu, beberapa wali murid mencoba mengonfirmasi langsung ke pihak sekolah. Namun, jawaban yang diterima justru menambah kekecewaan.
“Mohon maaf Pak, kalau untuk keperluan media sepertinya tidak bisa, karena sudah ada MoU. Segala sesuatu yang berkaitan dengan MBG hanya bisa disampaikan ke pihak MBG sebagai masukan dan kritikan,” ujar salah seorang guru ketika dimintai keterangan.
Berbeda dengan SD Muhammadiyah Dadirejo, informasi dari sekolah lain di Kecamatan Wonosobo justru menunjukkan pola pembagian berbeda. Di SD Karanganyar, siswa kelas 1 justru tidak mendapat jatah MBG, sementara yang menerima mulai dari kelas 2 hingga kelas 6.
“Ini kan program perdana di Kecamatan Wonosobo. Seharusnya para verifikator lebih memperhatikan kesiapan dapur MBG terkait ketersediaan porsi dan menu yang disajikan. Jangan asal jalan demi keuntungan sepihak,” keluh seorang wali murid di SD Karanganyar.
Selain soal pembagian, kualitas menu juga dikeluhkan para orang tua. Beberapa di antaranya menilai hidangan yang disajikan kurang menarik dan tidak sesuai selera anak-anak.
“Menu hari nasi putih, ayam geprek sambal, tahu-tempe yang warnanya hitam, sayur oseng labu siam dan jeruk hijau. Anak-anak SD dikasih ayam geprek, itu kan kurang pas, karena pedas” pungkas seorang wali murid.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pemilik yayasan maupun penanggung jawab dapur penyedia MBG belum memberikan keterangan resmi. Dugaan sementara, keterbatasan stok makanan menjadi penyebab utama adanya pengurangan jatah bagi sebagian siswa.
