BOJONEGORO l Beritakilat.id – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro resmi meluncurkan Gerakan ASN Pelopor Pangan (GASPOL) sebagai upaya strategis untuk memperkuat ketahanan pangan daerah dan memberdayakan produk pertanian lokal. Sosialisasi gerakan ini dilaksanakan pada Rabu, 19 Agustus 2026, di Gedung Angkling Dharmo lantai 2.
Acara tersebut dihadiri oleh Bupati Bojonegoro, Setio Wahono, Wakil Bupati Bojonegoro, serta Direktur Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri, Khoirul Huda. Turut hadir pula seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) se-Kabupaten Bojonegoro, termasuk 74 Kepala OPD dan Kasubag Urusan Kepegawaian dan Umum (UKK).
Dua Varian Beras Lokal Siap Pasarkan
Dalam sambutannya, Direktur Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri, Khoirul Huda atau yang akrab disapa Mas Huda, memaparkan strategi pemasaran dua varian beras unggulan daerah. Ia mengungkapkan bahwa beras merek “Rajekwesi” akan diluncurkan pada tahun 2026 ini. Sementara itu, beras premium bertajuk “Rojo Nogo” dijadwalkan terbit pada tahun 2027 setelah proses perizinan tingkat pusat selesai.
Mas Huda menekankan bahwa produksi Perumda hanya akan fokus pada kualitas beras premium dan tidak bermaksud menjadi kompetitor bagi pengusaha lokal atau UMKM di Bojonegoro. Untuk harga, pihaknya menetapkan Rp13.000 untuk jenis medium dan Rp16.000 untuk jenis premium.
“Kami membuka saluran masukan melalui nomor 08113060578. Masyarakat dan ASN dapat memberikan kritik terkait kualitas beras, apakah sudah sesuai harapan dari segi rasa yang pulen, warna putih bersih, dan tidak berbau,” ujar Khoirul Huda.
Bupati: ASN Harus Jadi Konsumen dan Pemasar
Bupati Bojonegoro, Setio Wahono, dalam arahannya menyatakan optimisme bahwa program GASPOL akan berhasil dan cepat diterima konsumen karena melibatkan seluruh OPD sebagai mitra pemasaran. Dengan latar belakang pengalamannya di bidang marketing di masa lalu, Bupati menitipkan pesan kepada Direktur Pangan Mandiri, para Camat di 28 kecamatan, serta seluruh OPD untuk menjadi konsumen pertama.
“Syarat utamanya adalah berasnya harus sesuai dengan harapan konsumen. Dari sisi marketing, potensi pasarnya sangat besar karena melibatkan banyak ASN. Jika dengan dukungan sebesar ini saja tidak berhasil, maka itu sangat disayangkan,” tegas Bupati Setio Wahono.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya BUMD Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri untuk siap menghadapi masa depan. Konsep membangun kedaulatan pangan dengan produk lokal seperti Beras Bojonegoro harus diberi ruang dan masukan hingga benar-benar dapat diterima oleh konsumen, khususnya di lingkungan ASN.
Tantangan Penyerapan Petani Lokal
Meski antusiasme tinggi terlihat dari kehadiran seluruh jajaran OPD, pertanyaan kritis mengenai dampak ekonomi langsung terhadap petani masih menyisakan tanda tanya. Hingga berita ini diturunkan, belum ada jawaban resmi dari pihak Direktur Perumda terkait target proyeksi penyerapan beras lokal dari petani Bojonegoro per bulan melalui program GASPOL.
Selain itu, rencana kerja sama khusus dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atau kelompok tani agar pembelian beras oleh ASN tidak hanya menyerap stok Bulog, tetapi juga langsung memberdayakan petani lokal, juga belum mendapatkan konfirmasi lebih lanjut via komunikasi tertulis.
Dengan diluncurkannya GASPOL, Pemkab Bojonegoro berharap dapat menciptakan ekosistem pangan yang mandiri, di mana ASN tidak hanya sebagai abdi negara, tetapi juga pelopor dalam mengonsumsi dan mempromosikan produk pangan asli daerah.












