Ragam  

Jelang Ramadhan, TPU Berlan Cikarang Utara Dipadati Peziarah

Kabupaten Bekasi — Menjelang masuknya Bulan Suci Ramadhan, tradisi ziarah kubur atau nyekar kembali ramai dilakukan umat Muslim di Indonesia. Tradisi turun-temurun ini menjadi momen untuk mengunjungi dan mendoakan orang tua maupun sanak famili yang telah meninggal dunia.

Tak heran, sejumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Kabupaten Bekasi mulai dipadati peziarah. Salah satunya TPU Berlan yang berada di Desa Karang Asih, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Minggu (15/2/2026).

Para peziarah datang silih berganti untuk berdoa secara langsung di pusara keluarga mereka. Area pemakaman pun terlihat lebih ramai dari biasanya, ditandai dengan deretan kendaraan yang terparkir di sekitar lokasi. Kendaraan roda dua atau sepeda motor mendominasi parkiran TPU tersebut.

Suasana khidmat terasa saat memasuki area pemakaman. Aroma harum bunga melati tercium di antara taburan bunga berwarna-warni yang masih segar di atas sejumlah makam. Beberapa peziarah tampak mengangkat kedua tangan seraya memanjatkan doa, sementara lainnya khusyuk membaca Surat Yasin.

Di sudut lain, sejumlah peziarah terlihat membersihkan makam keluarga dengan mencabut rumput liar dan merapikan area sekitar pusara, meskipun pengurus makam rutin melakukan perawatan.

Mul, pengurus TPU Berlan, mengatakan bahwa peningkatan jumlah peziarah memang kerap terjadi menjelang Ramadhan.

“Ya, hari ini jelang bulan suci Ramadhan banyak warga yang berziarah,” ujarnya kepada media.

Ia menegaskan, kebersihan makam bukan hanya dilakukan menjelang bulan puasa atau Hari Raya Idulfitri, melainkan rutin dikerjakan pada hari-hari biasa.

“Makam di TPU Berlan ini selalu dibersihkan, terutama rumput liar dan daun kering yang berserakan. Kebersihan bukan hanya ketika menjelang bulan puasa atau Idulfitri saja, tetapi sudah menjadi tanggung jawab kami,” ungkap Mul.

Menurutnya, perawatan tersebut dilakukan agar para peziarah merasa nyaman saat berkunjung dan tidak perlu bersusah payah membersihkan makam sebelum berdoa. Perawatan makam dilakukan bersama beberapa warga sekitar.

Terkait pemberian uang dari peziarah, Mul menegaskan bahwa tidak ada kewajiban maupun tarif tertentu.

“Pemberian uang dari para peziarah itu seikhlasnya, tanpa dipaksa. Tinggal dimasukkan saja ke kotak yang sudah disediakan di pintu masuk TPU. Kalau tidak memberi juga tidak apa-apa,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemberian tersebut bukan suatu keharusan, melainkan bentuk rasa terima kasih kepada pengurus makam yang telah menjaga kebersihan dan kerapian area pemakaman.

“Bukan suatu keharusan juga para peziarah memberikan uang, tetapi setidaknya ada rasa terima kasih,” tandasnya.

Penulis: Haris PranathaEditor: Satria

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *