LAMONGAN — Sebuah video berdurasi 25 detik mendadak viral di media sosial Facebook, memperlihatkan kondisi jalan yang rusak parah di wilayah Kabupaten Lamongan.
Meskipun dalam video tersebut tidak disebutkan secara pasti lokasi kerusakan jalan, respon publik langsung membanjiri kolom komentar dengan luapan kekecewaan dan kemarahan yang membara.
Warganet ramai-ramai mengecam pemerintah daerah, terutama Bupati Lamongan, yang dinilai abai dan tidak becus dalam menangani infrastruktur dasar.
Tak tanggung-tanggung, netizen menggunakan bahasa yang sangat blak-blakan dan pedas.
“Lamongan bupatine linga lingo lor,” tulis akun Ichwan Muhammad, menyindir bupati yang dinilai linglung dan tidak tahu arah kerja.
Komentar bernada getir lainnya datang dari Rama Dani, yang menyebut “Mikir no wethenge dewe,” alias bupati hanya mementingkan perut sendiri.
Ada juga netizen bernama Woeng Boedeg yang menumpahkan kekesalannya secara frontal: “Loosss, wes elek-elekno gpp, ben eroh sak Jatim Lamongan dalane bejat kabeh. Koyok pejabat’e, bejat utek’e!”
Komentar tersebut mendapat banyak dukungan dari warga lain yang merasakan penderitaan serupa akibat jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki.
Tak sedikit pula yang merasa justru senang kondisi ini viral. “Aku asli Lamongan malah seneng lek onok seng upload ngeneiki, ben tambah viral,” ujar Dhana Totti, yang berharap agar video-video semacam ini terus disebarkan agar membuka mata para pejabat yang menurutnya selama ini tutup mata dan telinga.
Akun Bojonegoro Terkini sebagai pengunggah video, pada Jumat, 11 Juli 2025, juga menjadi sorotan. Beberapa warganet mendukung aksinya sebagai bentuk kritik konstruktif.
“Ben go internasional lur, pihak terkait matane ben melek,” tulis Abu Ari. Namun ada pula yang menyindir, “Sok bijak,” seperti komentar dari M. Indra Raya.
Kondisi ini memperlihatkan betapa dalamnya kekecewaan warga terhadap pengelolaan infrastruktur di Lamongan.
Bahkan, ada komentar tajam yang mengatakan, “Gak gadeg blas duwe bupati, mung plonga-plongo!” sindiran telak bahwa keberadaan pemimpin daerah dianggap tidak memberikan manfaat nyata bagi rakyat.
Ironisnya, ini bukan sekedar keluhan biasa. Komentar-komentar yang muncul berasal dari warga asli Lamongan sendiri, bahkan dari mereka yang kini tinggal di luar daerah.
Mereka berharap viralnya video ini mampu menekan pemerintah untuk bertindak nyata, bukan sekadar lip service atau janji-janji manis.
Video ini menjadi potret buram wajah pelayanan publik di Lamongan yang dianggap gagal dalam memenuhi hak dasar warganya akses jalan yang layak.
Di tengah gemerlap janji pembangunan, jalanan rusak seperti ini justru menunjukkan realita pahit yang dialami masyarakat sehari-hari.
Kemarahan publik yang meledak di media sosial bukan tanpa alasan. Warga sudah muak dengan kondisi jalan yang tak kunjung diperbaiki dan merasa ditelantarkan oleh pemimpinnya sendiri.
Kini, mereka bersatu dalam dunia digital, menggaungkan jeritan mereka agar terdengar lebih luas, bahkan hingga ke tingkat nasional atau internasional.
Apakah pemerintah daerah akan mendengar, ataukah suara rakyat ini akan kembali tenggelam dalam lumpur jalan yang mereka lewati setiap hari. (Bup)
