BOJONEGORO | beritakilat.id – Jejak sejarah penyebaran agama Islam di Bojonegoro selatan masih terjaga di Desa Clebung, Kecamatan Bubulan. Salah satu tokoh yang dikenang warga adalah Raden Bagus Lancing Kusumo.
Menurut cerita yang diturunkan turun-temurun, Raden Bagus berasal dari Jawa Tengah. Dalam perjalanan dakwahnya, ia berseberangan dengan Belanda. Karena dikejar, ia kemudian sampai dan menetap di Desa Clebung.
Hingga kini makam Raden Bagus Lancing Kusumo masih ada di Clebung. Makam itu menjadi tempat ziarah dan bagian dari tradisi warga setempat.
Setiap malam Jumat Pahing berdasarkan penanggalan Jawa, warga menggelar doa bersama di makam. Kegiatan mengaji juga dilakukan setiap Jumat Pahing dan Jumat Legi. Selain itu warga masih mempertahankan tradisi manganan atau sedekah bumi sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan ungkapan syukur.
Juru kunci makam, Mbah Sipo, menuturkan Raden Bagus Lancing memiliki kaitan dengan Kasultanan Pajang. Ia disebut masih keturunan Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir.
“Menurut sejarah, beliau cucu Kasultanan Pajang. Saya juru kunci keturunan ketujuh,” tutur Sipo.
Sipo juga menyebut banyak peziarah dari luar Bojonegoro yang datang berdoa di makam. Mereka yang kemudian bergotong royong membangun pagar makam.
Dalam menjalankan tradisi, warga masih memegang sejumlah aturan adat. Salah satunya mengenakan sarung saat mengikuti kegiatan. Ada juga kepercayaan dalam membangun rumah agar tidak menghadap ke arah utara maupun barat. Ketentuan itu dijaga bersama di lingkungan RT.
Keberadaan makam, cerita Kasultanan Pajang, dan tradisi yang terus dilakukan menunjukkan kekayaan sejarah dan kearifan lokal Desa Clebung. Juru kunci bersama warga berkomitmen menjaga cerita dan tradisi ini agar tetap dikenal generasi berikutnya.












